Yogyakarta — Badan Otonom Mahasiswa Fakultas (BOM-F) Febipreneur Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Entrepreneur Talk & Workshop bertema “Ecopreneurship dalam Mendukung Sustainable Tourism Berbasis Potensi Lokal” pada Kamis, 30 April 2026, bertempat di Teatrikal Lantai 5 FEBI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan ini menghadirkan praktisi yang berpengalaman langsung di bidang pengembangan desa wisata, sehingga peserta memperoleh tidak hanya pemahaman konseptual, tetapi juga wawasan praktis yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Kegiatan ini turut dihadiri dan memberikan sambutan oleh Dr. Ibi Satibi, S.H.I., M.Si., selaku Wakil Dekan III FEBI UIN Sunan Kalijaga; U’um Munawaroh, S.E., M.Sc., selaku Pembina Febipreneur; serta Syarafina Marzuuqoh RA., selaku Ketua Febipreneur. Dalam sambutannya, Dr. Ibi Satibi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kreatif, inovatif, dan memiliki kepekaan terhadap potensi lokal. Ia menegaskan bahwa semangat kewirausahaan yang berorientasi pada keberlanjutan merupakan bekal penting bagi mahasiswa FEBI untuk menjawab tantangan ekonomi masa depan.
Sementara itu, U’um Munawaroh, S.E., M.Sc. dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun jiwa wirausaha yang tidak hanya berfokus pada keuntungan, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Menurutnya, konsep ecopreneurship sangat relevan untuk dikembangkan di kalangan mahasiswa karena mengajarkan cara memadukan nilai ekonomi, sosial, dan ekologis dalam satu model usaha yang berkelanjutan. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi pemantik lahirnya ide-ide bisnis yang lebih peka terhadap potensi lokal serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Adapun Syarafina Marzuuqoh RA., selaku Ketua Febipreneur, menyampaikan bahwa kegiatan Entrepreneur Talk & Workshop ini merupakan salah satu upaya organisasi dalam menumbuhkan semangat kewirausahaan di kalangan mahasiswa FEBI. Ia berharap forum ini dapat menjadi wadah bagi peserta untuk mengasah kreativitas, memperluas wawasan, dan membangun keberanian dalam merancang ide bisnis yang berdampak. Menurutnya, FEBIPRENEUR berkomitmen menghadirkan kegiatan yang tidak hanya inspiratif, tetapi juga aplikatif sehingga mahasiswa dapat belajar langsung dari pengalaman praktisi dan mengembangkan potensi yang dimiliki.
Pemateri dalam kegiatan ini adalah Muhammad Gema Ramadhan, S.I.P., selaku Ketua Pengelola Desa Wisata Kajii sekaligus praktisi pariwisata dari Bantul, Yogyakarta, dengan Abdul Salam sebagai moderator. Dalam pemaparannya, ia mengisahkan perjalanan pengembangan Desa Wisata Kajii yang berlokasi di Padukuhan Kadisoro, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Desa wisata tersebut berkembang dari inisiatif masyarakat menjadi destinasi wisata berbasis edukasi dan keberlanjutan.
Materi yang disampaikan mencakup konsep ecopreneurship sebagai bentuk kewirausahaan yang berorientasi pada pemecahan persoalan lingkungan dan sosial sekaligus menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan. Pemateri menjelaskan bagaimana potensi lokal, seperti budidaya ikan hias Gold Fish, Molly, Guppy, dan Manfish, serta kekayaan budaya berupa batik, wayang kulit, gamelan, dan kuliner tradisional, dapat diintegrasikan menjadi paket wisata tematik yang bernilai ekonomi tinggi. Saat ini, Desa Wisata Kajii menawarkan berbagai pilihan paket wisata, mulai dari Paket Edukasi Ikan Hias, Paket Budaya dan Kuliner Desa, hingga Paket Sehari di Kajii.
Selain itu, pemateri juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pengembangan desa wisata. Kehadiran platform digital Dewikajii.id, yang dikembangkan bersama akademisi UMY, menjadi bukti konkret pemanfaatan teknologi untuk memperluas jangkauan promosi. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan Dewi Kajii tidak lepas dari kolaborasi multipihak atau pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media. Berkat kerja sama tersebut, Dewi Kajii berhasil tumbuh menjadi desa wisata maju pada 2024, setelah memulai perjalanannya sejak 2015 dari sekadar hobi budidaya ikan hingga menjadi ikon wisata edukasi ikan hias pertama di Indonesia.
Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan workshop interaktif. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk berdiskusi dan menyusun ide bisnis yang memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan sumber daya lokal. Setiap kelompok kemudian mempresentasikan gagasan bisnis yang telah dirancang di hadapan peserta lain dan pemateri. Sesi presentasi berlangsung penuh antusiasme dan kreativitas, memperlihatkan beragam ide bisnis berbasis potensi lokal dari sudut pandang mahasiswa.
Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar strategi pengembangan bisnis, tantangan lapangan, dan cara membangun ekosistem wisata yang berkelanjutan. Sebagai puncak kegiatan, diumumkan pemenang penghargaan Best Business Idea Award untuk ide bisnis yang dinilai paling inovatif, relevan dengan prinsip keberlanjutan, dan berpotensi dikembangkan secara nyata.
Dalam penutup materinya, pemateri menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu menunggu lulus untuk mulai berwirausaha. Menurutnya, keterampilan, jejaring, dan semangat inovatif dapat dibangun sejak masih menempuh studi dengan memanfaatkan potensi lokal yang tersedia. Ia mengingatkan bahwa bisnis yang bermakna adalah bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga berdampak dan berkelanjutan. Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan para peserta semakin termotivasi untuk mengasah jiwa kewirausahaan berbasis potensi lokal, berpikir kreatif, dan berani mengambil langkah nyata dalam mewujudkan ide bisnis yang berdampak bagi masyarakat.