PERKEMBANGAN KAJIAN KEISLAMAN INDONESIA DAN MINAT PENELITI JEPANG

Kajian keislaman mengalami perkembangan yang pesat dan menarik perhatian yang sangat luar biasa di kalangan para akademisi dan peneliti dunia. Kajian keislaman di Indonesia tidak terkecuali dalam hal ini, dan Indonesia bahkan menjadi objek yang sangat kaya bagi para peneliti yang tertarik melakukan penelitian dan kajian keislaman. Para peneliti Jepang belakangan tertarik juga untuk melakukan kajian keislaman, meski peneliti yang memfokuskan kajiannya pada Islam tidak banyak. Salah satu dari peneliti yang sedikit ini adalah Prof. Yasuko Kobayashi. Kobayashi melakukan beberapa penelitian dan fokus penelitiannya adalah Islam di Indonesia, dan mempublikasikan hasil kajiannya di buku-buku dan Jurnal yang diterbitkan di Jepang dan luar Jepang. Kobayashi belakangan bukan hanya tertarik untuk melakukan kajian keislaman di Indonesia, tetapi juga tertarik untuk melihat perkembangan kajian keislaman Indonesia yang dilakukan para peneliti baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Kobayashi menyajikan hasil kajiannya dalam sebuah artikel yang dimuat dalam sebuah Jurnal Jepang bernama Acta Asiatica, di mana dia melakukan penelusuran sejarah perkembangan kajian keislaman dan melakukan pemetaan berdasarkan objek dan tema kajian. Memanfaatkan keberadaannya di Yogyakarta untuk mendampingi mahasiswa dan mahasiswi Universitas Nanzan yang berkunjung ke Universitas Sanata Dharma dalam rangka peningkatan kemampuan pengetahuan bahasa dan budaya, Fakultas Syariah dan Hukum mengundang Kobayashi untuk memaparkan hasil penelitiannya terkait perkembangan kajian keislaman Indonesia di hadapan para dosen, peneliti dan mahasiswa-mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum. Kegiatan ini dikemas dalam ‘Ceramah Umum’ yang menampilkan Kobayashi sebagai narasumber diselenggarakan pada 7 Maret 2014 di Ruang Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum dan dihadiri puluhan dosen dan mahasiswa-mahasiswi. Dalam kegiatan tersebut Kobayashi memaparkan dengan detail dan baik hasil kajiannya terkait dengan perkembangan kajian keislaman di Indonesia. Kobayashi menyebutkan bahwa kajian keislaman di Indonesia banyak dilakukan oleh kalangan peneliti baik Muslim maupun non-Muslim, dan ia menelusuri perkembangan kajian keislaman di Indonesia yang dimulai dengan periode pada masa kolonial, dan meneruskannya pada perkembangan kajian keislaman yang terintegrasi dengan ‘kajian kawasan’, sebuah kajian yang memfokuskan pada isu tertentu di wilayah tertentu. Benda dan Geertz disebut sebagai contoh peneliti yang fokus kajiannya pada Islam di area tertentu, yaitu Indonesia. Kobayashi juga menjelaskan beberapa kajian yang dilakukan oleh beberapa peneliti yang ia anggap sebagai kajian-kajian yang memberikan kontribusi baik bagi perkembangan kajian-kajian Islam berikutnya. Ia memulai dengan menyebutkan beberapa kajian di dalam bidang hukum Islam, di mana ia memasukan karya-karya termasuk karya John Bowen, Michael Feener dan Euis Nurlaelawati. Ia kemudian beranjak pada sejarah di mana karya Martin van Bruinessen dan Azyumardi Azra disebut di antara beberapa karya yang pantas mendapatkan apresiasi terkait dengan kajian sejarah Islam. Isu kontemporer Islam merupakan bidang lain yang menarik perhatiannya di mana ia menyebutkan karya-karya yang dihasilkan oleh para peneliti muda seperti Mujiburrahman dan Noorhaidi Hasan, keduanya merupakan alumni Universitas Utrecht, Belanda. Kobayashi kemudian memaparkan tentang minat peneliti Jepang terhadap kajian keislaman, yang menurutnya mengalami kemajuan pada beberapa periode dan tetapi kemudian mengalami kemunduran karena beberapa faktor. Baginya, Indonesia, seperti bagi para peneliti lain, merupakan wilayah yang menarik untuk dijadikan objek kajian terkait dengan Islam. Hal itu selain karena Indonesia berpenduduk Muslim secara mayoritas, Indonesia juga mempunyai hubungan yang erat dengan Jepang, dan itu membuat peneliti Jepang tertarik untuk melirik Indonesia dalam penentuan kebijakan pemerintah untuk memberikan tunjangan bagi pengembangan kajian-kajian Islam. Meski minat itu ada dan lumayan besar, beberapa faktor membuat kajian keislaman Indonesia belum mencapai kemajuan yang baik di Jepang. Hal ini juga barangkali terkait dengan minat para peneliti kajian keislaman Indonesia yang belum melihat Jepang sebagai destinasi penting bagi pengembangan kajian keislaman. Di sinilah, kita semua ditantang untuk membangun jembatan akademik yang lebih kukuh dengan Jepang.